Bersyukur
<<< KALO GAMAU BACOT SKIP KE PARAGRAF 4 >>>
Hai ! ini curcol kedua di waktu yang berdekatan yah :)
Aku selalu jadi yang terbaik (akademik) di keluargaku. Bukan mau
sombong yah, tapi pembicaraan tentang ‘aku selalu jadi yang terbaik di
keluargaku’ ini termasuk aspek penting yang mendukung pembahasan sekarang. Kakakku
cantik dan baik. Dia jauh lebih ramah dari aku, dia bisa akrab dengan anak
kecil dan dia adalah kakak yang terbaik bagi adikku – karena tidak mungkin aku.
Yah, terbaik bagiku juga sih. Tapi untuk ukuran akademik, aku memang lebih baik
dari dia.
Berikutnya adikku, dia ramah dan sangat kreatif dibanding kami
semua dirumah – termasuk bapak dan mama.
Dia baik dalam mendengar, sedangkan makin naik usia kita lebih dituntut belajar
dengan metode membaca, tidak ada lagi yang menjelaskan. Biasanya orang kreatif
itu cerdas, dan karena itulah mungkin dia jadi pemalas belajar plus ceroboh. Karena
itu jugalah, kita kembali nke topic, untuk ukuran akademik, aku lebih baik
daripada dia.
Aku pernah les sekali, waktu kelas 2 SD. Waktu itu aku les
matematika dan bahasa inggris. Setelah itu aku tidak pernah les apapun sampai
sekarang, aku duduk dibangku kelas 11. Hal itulah yang selalu aku
dengung-dengungkan. Gimana ya, melihat teman-temanmu belajar sampai malam
ditempat bimbel ataupun privat, sedangkan kita asik dirumah, merupakan
kebahagiaan tersendiri.
Apalagi dulu, saat Ulangan harian, aku sering banget bilang “aku
gak belajar lho” – beneran enggak belajar lho. Dan nilaiku bagus. Selalu 90
keatas, kecuali matematika dan pkn. Itulah yang terjadi sampai aku lulus SMP.
Dimana saat itu tidak belajar nilai bagus, dan nilai UN ku pun meluluskanku
masuk SMA Negri favorit – kalau yang satu ini sih nilai nya gak sesuai banget
sama target.
Masuk SMA aku langsung ternganga banget, semuanya berubah. Dari
teman-temannya, jenis gurunya, pelajaran IPAnya yang dibagi jadi tiga,
Matematika hamper setiap hari, dan yang paling penting, hampir semua ya hamper semuaaanyaa
itu pinter bangett. Dan disinilah aku mulai merasa menjadi orang bodoh.
Gak semata-mata dapat
nilai 8, disini aku mulai mengalami hal yang sebelumnya tak pernah terjadi, ini
sebuah kata keramat yang nista banget didenger setelah pembagian nilai. Yah,
bagi kalian yang gak konek, aku kasih tahu ya. Namanya REMEDIAL. Asik banget,
gak nanggung-nanggung yang nilai buruk itu semua adalah eksakta – mata pelajaran
biologi, fisika, kimia, mtk. Kan aku qesal.
Aku mulai rajin belajar, kalau UH belajarnya gak kebut
semalam. Aku baca buku cetak, catatan dan powerpoint yang dikasih gurunya. Aku juga
belajar sama temen. Kadang weekend juga belajar. Dan dengan begitu pun aku pun
tetap remedial – ngenes banget, gak kuat. Selain belajar tentunya aku makan
bergizi dan yang paling penting aku berdoa. Tapi ya gitu, gak lulus juga aing
mah, cedih.
Mau capcipcup juga gak bisa. Adasih temen yang asal-asal
jawab, emang hokinya level dewa banget. Jadi selain belajar, berdoa, asupan
gizi, sepertiny aku kurang sesuatu, keberuntungan. Jadi aku bertanya-tanya
apakah aku tidak diberikan secercah keberuntungan
Pusing aku, harus bagaimana sih.
Sampai tiga hari yang lalu, sekitar jam 2 hujan deras dan
reda, tapi masih bunyi gledek-gledek gitu. Aku panic banget kalau hujan, jadi
saat bel pulang sekolah aku langsung tancap gas pulang ke rumah. Dengan kecepatan
yang gak sewajarnya aku mengendarai sepeda motor yang dibeli bapakku tersayang pada
bulan Maret untukqu – hehe. Makin kearah rumah, langit gak gelap lagi, biasa
aja, cuma memang terasa anginnya.
Jadi aku kebutttt banget, terus ada mobil keluar dari suatu
perusahaan. Mungkin satpamnya ngeliat jalan kosong, jadi mobilnya dituntun
keluar. Nah aku kan cepet banget, jadi beberapa detik pas mobilnya keluar
ternyata aku dah dekatt banget. Gak mungkin banget aku ngerem dengan kecepatan
segitu. Dan dengan izin yang Maha Kuasa aku pun berhasil lewat walaupun udah
nyaris banget ketabrak – plus dapet klakson yang super panjang.
Langit yang cerah entah kenapa gak sesuai dengan yang
terjadi berikutnya. Masih sekitar 3 meter dari mobil yang udah aku lewati,
gerimis deras turun. Seolah menertawai kebodohan yang sering kali aku lakukan. Yah,
lebih tepatnya menegurku. Sampai rumah masih hujan. Aku masukin motor ke
garasi, masih dengan kondisi tubuh gemetar. Dan tiba-tiba hujan terhenti. It feels
like “udah Han, udah ya buat bodohnya !”
Aku cerita ke mama, semua yang aku rasakan. Dia bilang, kita
kadang gak sadar sama maut, udah dekattt kali tapi kita selamat. Ada yang
kayaknya oke-oke aja, tiba-tiba udah dipanggil yang Maha Kuasa. Itulah hidup,
mama bilang, aku pikir mungkin Tuhan kejam kasih aku nasib seperti itu dalam
akademis, tapi Tuhan tahu mana yang lebih penting untuk aku.
Aku pikir, aku gak bisa lagi beruntung dalam nilai, karena
keberuuntungannku sudah habis untuk menyelamatkanku dari maut.
Aku pernah dengan bodohnya maksa lewat belakang mobil yang
lagi mundur, trus mobilnya gak tahu aku lewat jadi tetap mudur dan di jalan
kecil yang akan lewati itu ternyata lubang besar. Untung tukang parkitnya cepet
sadar dan aku juga bisa belok ke yang gak ada lubang.
Aku pernah dengan bodohnya maksa mendahului padahal sempit
dan disampingnya itu selokan besar, hampir hilang keseimbangan, dan untungnya
gak jatuh ke selokan.
Aku pernah dengan bodohnya – ini fresh banget baru terjadi
sekitar 3 jam yang lalu, mau mendahui trans metro dan diarah berlawanan ada
mobil. Aku pikir mobilnya masih jauh, emang masih jauh sih namun ternyata supirnya
sejenis dengan aku, mobilnya kebut banget. Jadi aku gak bisa nyelip, kalau
maksa aku bisa ditabrak transmetro atau malah kejepit trasmetro dan mobil
itu. Jadi pas posisi aku udah di samping trans, aku ngerem parah – udah gigi 4
dan kecepatan setan, dan mobil itu belok sikit biar gak kena aku. Pengendara mobil
dan trans memang pas, apalagi mobil itu yang dengan bijaksanya agak belok. Tapi
sangking mendadaknya ngerem, ban aku goyang dan aku nyaris jatuh.
Dan last yang aku inget, kali ini bukan aku yang bodoh. Aku mau
belok kanan, udang pasang sen, udah kecepatan 10, ada motor laknat lewat dari
kanan, untung gak ketabrakkkk.
Disinilah aku sekarang, masih hidup, aku yakin Tuhan sayang
sama aku. Aku pengen lebih hati-hati lagi, kendarain motornya pelan-pelan, tapi
memang susah karena aku gak sabaran banget anaknya. Tuhan tahu itu, makanya Dia
selamatkan aku.
Coba deh ya, temen-temen ingat apa aja sih kesialan yang
kalian alami, terus kalian inget juga apa keberuntungan yang selama ini tidak
kalian hitung, yang terlewatkan gitu aja. Atau ada temen-temen yang mengalami
hal serupa dengan aku, trus malah ketawa seru dan berpikir ‘hebat kali anjir
aku lewati trans metro tu’ atau ‘nyaris kali anjir hahahha, lolos aku’. Kayak kalian
tuh nyaris keserempet trus kalian pamer ke temen-temen yang lihat. Kalian tau
gak sih, saat itu, Tuhan lagi bekerja dalam hidup kalian. Nilai bisa disogok
pakai uang, tapi nyawa kalian, siapa bisa gantikan.
Aku berpikir, kalau beneran jatuh aku makan merasakan
kesakitan yang amat sangat, terlebih lagi aku menyiksa orang tuaku yang pasti, udah aku gak bisa bayangin gimana.
Walaupun nilai saya jatuh banget, dan bagaimana saya
masuk PTN, namun ternyata sampai sekarang saya masih diberi kesempatan hidup,
berarti Tuhan masih ingin lihat perjuangan saya, dan saya harus terus semangat,
dan percayalah, masa depan cerah dan penuh harapan sudah dirancangkan untuk
kita semua yang percaya dan berjuang. Apapun hasil kita sekarang, jangan stress
– walaupun saya masih suka stress berat gara-gara nilai sih. Slow but sure,
pasti bisa.
Saat aku berpikir, keberuntunganku dulu hilang, ternyata
salah, kasih dan penyertaan Tuhan masih ada dan selalu ada, namun untuk saat ini
difokuskan untuk kecerobohanku dijalan. Karena itu jauh lebih penting. Jadi guys,
banyak banget hal dalam hidup saya – juga anda, yang patut disyukuri. Setiap detik
adalah anugrah.
Komentar
Posting Komentar